Oleh:
Syamsul Bahri, S. Pd.
Ketua PGSI Kab. Wajo
Hidup dan kehidupan ini adalah suatu
kepastian berdasarkan realita kehidupan sejak turunnya Nabi Adam As. bersama
isterinya Hawa ke dunia sampai akhir kehidupan nanti (kiamat). Tetapi masalah
kiamat, kita manusia tidak ada kemampuan untuk mengetahuinya apalagi ingin
memastikannya. Oleh karena itu, tugas sebagai insan hanyalah berbuat dan
berbuat dalam kapasitas sebagai khalifah dan hamba Allah. Ini merupakan
konsekwensi dari predikat tercipta bukan pencipta. Jadi kita hanya patuh dan
tunduk atas ketentuan pencipta. Dalam hal ini, Allah sebagai pencipta tunggal
terhadap semua apa yang ada di bumi dan di langit. Allah berfirman: “Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(QS. Al
Baqarah: 30).
Oleh karena itu, marilah sesama insan beragama saling membenahi diri
masing-masing dalam pembentukan karakter yang ideal sebagai harapan kehidupan.
Teristimewa bagi kita guru yang harus tampil sebagai teladan kehidupan. Momen
Hardiknas 02 Mei 2012 ini, kita jadikan hari inrospeksi diri untuk meraih
harapan yang lebih baik, apalagi di era reformasi sekarang ini yang merupakan
momentum kebangkitan harapan bangsa untuk menggapai kehidupan yang lebih baik.
Sejarah perjalanan kehidupan bangsa itulah “Persaudaraan Guru Sejahtera
Indonesia (PGSI) “ lahir untuk turut berperan aktif membangun bangsa, khususnya di bidang
pendidikan dan keguruan. Termasuk kami di daerah Kabupaten Wajo, PGSI
Alhamdulillah berdiri melalui pengukuhan pada tgl. 24 Oktober 2010 dan
terdaftar di Kesbangpol, Nomor: 220/197/V/Kesbang/2010, pada tanggal 31 Mei
2010.
Pengukir sejarah peradaban kehidupan dari masa ke masa diperankan oleh
insan-insan yang berkarakter. Karakter yang diharapkan adalah karakter yang
melangit dan membumi, bukan karakter yang hanya membumi, sebagaimana yang telah
kita lalui dari priode ke priode, yang senantiasa berakhir kepedihan dan
pergolakan, sejak zaman penjajahan sampai zaman reformasi sekarang ini. Dengan
demikian, izinkanlah saya paparkan beberapa karakter yang dapat kita renungkan
bersama, yaitu sebagai berikut:
- Tauhid yang konsisten.
Sebagai insan yang tercipta, dari tidak ada menjadi ada, kemudian tidak ada
lagi, mengindikasikan bahwa kita lemah. Kita ada dan kuat kerena diadakan dan
dikuatkan oleh pencipta. Itu suatu realita yang tidak dapat terbantahkan oleh
siapapun dan di manapun adanya di dunia ini. Insan yang tidak proporsional
dalam mengarungi kehidupan, cepat atau lambat, mereka akan mengalami kekacauan
dan kehancuran. Ibaratnya alam semesta, matahari misalnya tidak akan berfungsi
dengan baik kalau tidak mematuhi aturan edarnya. Demikian halnya manusia yang
mencoba menyalahi aturan pencipta, akan mengalami kehancuran pula, di dunia dan
di akhirat nanti. Jadi insan yang mau selamat adalah yang proporsional
menempatkan dirinya sebagai hamba dan mengabdikan dirinya secara tunggal dan
utuh secara berkesinambungan sampai menghembuskan nafas terakhir.
- Ibadah yang tulus dan murni. Telah jelas menurut al Qur’an, bahwa motivasi penciptaan manusia
adalah untuk mengabdi kepada Allah (baca: QS. 51: 56). Manifestasi insan yang
bertauhid adalah senantiasa beribadah secara tulus dan murni hanya kepada Allah
semata. Semua sisi kehidupan dimaknainya dengan predikat ibadah, sebagiamana
keteladanan Rasulullah Saw. dan para sahabatnya. Dzikir dan shalat senantiasa
dilaksanakannya dengan baik sesuai tuntunan dan tuntutan yang telah dicontohkan
dan ditetapkan oleh Rasulullah Saw. Yang pasti semua tuntunan dan tuntutan
ibadah senantiasa dilaksanakannya dengan baik secara tulus dan murni bagi insan
yang bertauhid.
- 3.
Akhlak yang mulia.
Akhlak positif dan negatif adalah merupakan pembawaan manusia. Tergantung kita
manusia, yang positifkah mau dikemabangkan atau sebaliknya negatif. Allah hanya
memberikan rambu-rambu di dalam al Qur’an dan keteladanan Rasulullah Muhammad
Saw. Salah satu misi beliau adalah menyempurnakan akhlak manusia, dimana beliau
bagaikan al Qur’an yang berjalan. Tuntunan al Qur’an (baca: QS. Al-Isra’: 23 – 37)
telah jelas tentang akhlak dalam beragama, bernegara, bersosial, berekonomi,
dan lain sebaagainya. Islam akan menuntun penganutnya untuk berakhlak yang
benar dan mulia, dan terhindar dari akhlak kebinatangan sebagai penghancur
peradaban kehidupan. Insan yang berakhlak mulia adalah manifestasi dari
karakter ketauhidan dan peribadahan.
- Fisik yang kuat.
Realita kehidupan dari masa ke masa, peranan insan dapat terlaksana dengan baik
oleh insan-insan yang fisiknya kuat. Tuntutan hidup dan kehidupan ini
mengharuskan demikian. Fenomena kehidupan dan alam semesta menuntut adanya
gerakan-gerakan yang harus diperankan oleh fisik yang kuat. Dengan demikian,
fisik yang lemah akan ketinggalan oleh laju tuntutan kehidupan itu sendiri.
Makanya Rasulullah Saw. menegaskan bahwa mukmin yang kuat fisiknya lebih dicintai
oleh Allah daripada mukmin yang lemah fisiknya. Karakter-karakter lainnya tidak
dapat terlaksana pada insan yang lemah fisiknya.
- Wawasan yang luas.
Ini terkait kemampuan dan keberhasilan manusia dalam mengembangkan potensi
intelektualismenya dalam proses pembelajaran berbagai aspek garapan kehidupan.
Baik aspek keagamaan maupun keduniaan. Keduanya disinergikan untuk dipahami dan
dikembangkan, sebagaimana yang telah diperankan oleh Rasulullah Saw. beserta
para sahabatnya, khususnya Khulafaur Rasyidin. Mereka semua berperan aktif
secara menyeluruh dan utuh pada semua bidang kehidupan. Mulai kehidupan
pribadi, keluarga, tetangga, sampai kehidupan Negara dan internasional. Tentu
semua itu tidak dapat berjalan dengan baik, jika seandainya diperankan oleh insan
yang tidak berwawasan luas.
- Ekonomi yang mapan dan mandiri. Realita kehidupan pula telah menegaskan bahwa pentingnya peranan
ekonomi dalam kehidupan. Sejarah Kehidupan Islam dalam menggapai kejayaannya
tidak terlepas dari kemapanan dan kemandirian ekonomi yang dimiliki oleh
insan-insan teladan. Di dalam ajaran Islam, hal itu telah dipertegas pada rukun
Islam ketiga tentang zakat dan penegasan Rasulullah Saw. bahwa “tangan di atas
lebih baik daripada tangan di bawah”. Bersedekah lebih baik daripada menjadi
pengemis. Penegasan beliau itu dicontohkan olehnya dan para sahabatnya yang
memiliki kemapanan dan kemandirian ekonomi.
- Disiplin dalam keteraturan. Islam sangat menghendaki keteraturan dalam beramal, sehingga dipacu
semangat kebiasaan ketepatan waktu dan keseriusan setiap melaksanakan
kegiatan-kegiatan ritual ibadah dan muamalah. Mulai tidur sampai bangun dan
tidur kembali, semua melalui proses kedisiplinan dalam keteraturan dengan
disertai doa dan dzikir. Contoh kecil saja, masuk toilet dituntun dengan bacaan
do’a dan aturan mendahulukan kaki kiri masuk dan kaki kanan keluar serta
diiringi do’a lagi. Kedisiplinan dalam keteraturan merupakan syarat mutlak bagi
insan pengukir sejarah peradaban.
- Pemanfaatan waktu secara efektif dan efisien. Waktu harus diperhatikan dan dimanfaatkan
dengan baik. Jangan dibiarkan waktu pergi berlalu begitu saja tanpa makna
ibadah dan pemanfaatan kehidupan. Akhirnya sering waktu dikambing hitamkan oleh
insan yang gagal “tidak ada waktu”. Padahal penyebabnya bukan waktu, tetapi
penyebabnya adalah ketedeloran dan sikap acuh tak acuh terhadap keberadaan
waktu yang ada. Jadi waktu memang ibaratnya sebuah pedang yang akan berfungsi
baik di tangan pengrajin dan malapetaka di tangan penjahat. Dengan demikian,
benar apa yang difirmankan Allah (baca: QS. Al Ashr) dan yang disampaikan oleh
Rasullah Saw. untuk diperhatikan lima hal sebelum datangnya pula lima hal.
Ingat waktu hidup sebelum mati; kaya sebelum miskin; sehat sebelum sakit; muda
sebelum tua; dan luang sebelum sempit. Kelima hal ini, seringkali kita terlena
di saat menyenangkan sampai melupakan waktu kesusahan dan ketidak berdayaan. Oleh
karena itu, pemanfaatan waktu yang efektif dan efisien harus senantiasa
diperhatikan dengan seksama oleh insan yang berkarakter.
- Bersahaja dalam kehidupan. Kehidupan Insan berkarakter, akan terarah dan bertanggung jawab,
seperti halnya sebuah mobil yang melaju di jalan tol dengan baik karena
terkendali oleh konsentrasi sopir. Lain halnya insan yang tidak berkarakter,
kehidupannya bagaikan binatang, atau bahkan lebih binatang daripada binatang.
Kenapa demikian? Karena telah terkendali oleh hawa nafsunya. Obsesi
kehidupannya telah membabi buta tanpa mengindahkan lagi rambu-rambu kebenaran.
Lain halnya insan yang berkarakter akan bersahaja dalam kehidupannya.
Kehidupannya tertata rapi dengan penuh kesedarhanaan. Kehidupan dunia tidak
dipandangnya sebagai tujuan akhir, tetapi hanya sekedar tempat persinggahan
mengumpulkan bekal untuk terus melanjutkan perjalanan sampai ke finis, yaitu surga
Allah yang tidak ada tara keindahan dan kenikmatannya. Dunia bukan finis
kehidupan sehingga harus dicapai kepuasan kenikmatannya dengan segala cara.
Akan tetapi, kehidupan dunia dijalaninya dengan benar dan terarah yang
bersahaja.
- Kepedulian. Karakter yang terakhir ini merupakan kesimpulan dari semua karakter
yang ada. Kehidupan yang bermakna adalah kehidupan yang penuh kepedulian sesama.
Keberlangsungan kehidupan karena adanya kebersamaan dan kepedulian sesama.
Insan satu sama lain saling ketergantungan dan saling membutuhkan.
Makanya, kepedulian sesama adalah suatu
keniscayaan kehidupan. Kepedulian merupakan syarat peradaban kehidupan yang
harus terpatri pada setiap sikap insan berkarakter terhadap agama, mayarakat,
bangsa, Negara, dan umat. Gambaran insan berkarakter telah disaabdakan
Rasulullah Saw. bahwa: “Perumpamaan
orang yang beriman (berkarakter) itu
seperti lebah, tidak makan kecuali yang baik dan tidak meletakkan kecuali yang
baik”. (HR. Thabrani)
Itulah
sepuluh karakter insan harapan kehidupan, yang telah diperankan insan-insan
pengukir sejarah peradaban kehidupan dari masa ke masa. Mereka rata-rata
berkarakter, sebagaimana gambaran uraian sepuluh karakter di atas. Hanya ada di
antara mereka tidak memiliki secara keseluruhan karakter-karakter tersebut.
Tetapi mereka di atas rata-rata karakter-karakter tersebut dimilikinya. Karena
dari karakter pertama sampai karakter sepuluh, semuanya saling terkait satu
sama lain. Perbedaan yang mungkin dapat terjadi di antara mereka adalah karakter-karakter
dominan yang dimilikinya sesuai dengan pemahaman, perjuangan dan situasi
kondisi kehidupannya masing-masing. Yang jelasnya, idealisme karakter pengukir
sejarah peraban tidak terlepas dari sepuluh karakter di atas.
Menurut
sejarah kehidupan dari masa ke masa, karakter-karakter tersebut terpatri di
insan mana? Jawabannya menurut literatur sejarah yang tidak terbantahkan, ada
di dalam al Qur’an, khususnya para nabi dan rasul Allah. Parade kerasulan
tersebut, dimulai Nabi Adam as. sampai Muhammad Rasulullah Saw. Mereka semua
adalah insan-insan pengukir sejarah peradaban pada zaamannya masing-masing.
Mereka diasuh dan dibimbing oleh wahyu Ilahiyah untuk berkarakter yang benar sesuai
beban amanah yang diembannya dari Allah, untuk menata zaman kehidupannya
masing-masing.
Khusus
umat Islam, insan yang berkarakter paling ideal adalah Muhammad Rasulullah Saw.
Beliau adalah insan pilihan pada zamannya yang bergelar “al amin”. Kemudian
belaiu dilantik oleh Allah sebagai utusannya setelah merenung (tahannuts) di
gua Hira kurang lebih dua tahun lamanya. Dengan bimbingan al Qur’an dari Allah
melalui Malaikat Jibril, beliaupun berhasil membina para sahabatnya, khususnya
sepuluh sahabat yang mendapat jaminan penghuni surge. Mereka berhasil
berkarakter dengan baik dengan predikat
“Generasi Qur’ani”, yang telah mengukir sejarah peradaban pada kurun waktu
tertentu.
Itulah uraian gambaran karakter insan harapan
kehidupan yang patut kita miliki, khusunya kita guru dan berusaha maksimal
membentuk insan-insan berkarakter. Dan senantiasa memperbaharui semangat demi
semangat setiap hardiknas kita peringati. Bukan hanya sekedar memeriahkan hari
pendidikan tersebut dengan hura-hura dan seremonial saja tanpa membangkitkan
semangat pendidikan yang berbasis karakter. Sekali lagi, mari kita bangun insan berkarakter!